Selasa, 12 Juli 2011

ANAK-ANAK SEKARANG BERMAIN DENGAN AMAN

Oleh: Agung Bagus Armianto, ST (Askot Urban Planner PNPM MP Kota Pekalongan | April 2011 - Oktober 2011)

Sebelum program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) masuk sekitar tahun 2008 yang lalu merupakan hal yang berat bagi warga RW I dan VII kelurahan Podosugih, terutama yang tinggal di tepi sungai Binatur untuk berinteraksi. Tepian sungai yang becek dan gelap sangat tidak memungkinkan masyarakat untuk melewati jalan inspeksi tersebut apalagi melakukan aktivitas lain.


Namun berkat masuknya program PLPBK yang mengajak masyarakat untuk melakukan penyusunan rencana, masyarakat menetapkan kawasan tepi sungai tersebut menjadi kawasan prioritas di Kelurahan Podosugih yang perlu ditangani. Berbagai kegiatan pun akhirnya dilakukan untuk memperbaiki kualitas lingkungan permukiman di sepanjang sungai Binatur yang masuk dalam kawasan prioritas. Dibentuk beberapa Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang bertugas melaksanakan pembangunan fisik sesuai dengan indikasi program yang telah disusun, mulai pemasangan paving, pembuatan saluran, rehabilitasi rumah, pemasangan lampu hingga pembuatan jembatan.


Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) 400 juta untuk kegiatan fisikpun di gelontorkan habis untuk merealisasikan mimpi masyarakat. Tetapi jalan ternyata masih sangat panjang, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat Podosugih. Ketika jalan yang semula becek telah menjadi mulus, tempat yang gelap telah menjadi terang di malam hari, akhirnya masyarakat pun mulai berpikir ulang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka mulai malu buang air besar di tepi sungai dan membangun WC di rumah masing-masing. Sampah yang tadinya dengan mudah terselesaikan di tingkat tumah tangga dengan melemparnya ke sungai sekarang menjadi masalah baru untuk dikelola. Belum lagi sampah cair (limbah) dari pabrik batik yang berada di lingkungan tepi sungai. Juga anak-anak yang mulai banyak bermain di tepian sungai menjadi rawan terhadap bahaya jatuh ke sungai.


Tapi justru di situlah terjadi apa yang diharapkan dari program PLPBK ini. Masyarakat mau secara aktif dan sadar untuk merubah perilaku mereka sendiri dengan stimulan berupa pembangunan fisik di lingkungan permukiman mereka. Tidak pernah terbersit di pikiran mereka sebelumnya untuk membangun rumah dengan fasade menghadap ke sungai. Tapi apa yang terjadi sekarang, mereka sadar akan pentingnya akses bagi rumah. Bagaimana sebuah bahaya seperti kebakaran yang datang tidak terduga akan menjadi lebih terantisipasi bila mereka mempunyai akses yang luluasa ke rumah mereka. Selain itu faktor estetika yang tidak menjadi perhatian mereka kini menjadi hal yang turut di pikir dalam mendirikan rumah baru di tepi sungai. 
Di bulan Juli 2011 ini telah cair BLM 3 sebesar 300 juta ke rekening Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) untuk melanjutkan perwujudan mimpi. KSM Pagar Sungai dibentuk untuk membuat pagar dan memasangnya di tepi sungai Binatur. Total biaya yang di butuhkan sebesar Rp. 20.670.000,- telah di cairkan KSM sampai dengan termijn terakhir. Masyarakat yang tadinya tidak mungkin membiarkan anak-anaknya bermain di tepi sungai kini menjadi lebih tenang. Anak-anak dapat berkumpul dan bermain dengan aman tanpa khawatir jatuh ke sungai. Selain itu kawasan sungai menjadi lebih indah dengan adanya pagar besi yang bermotif tersebut.


Masih jauh memang jalan yang harus ditempuh untuk mewujudkan apa yang dimimpikan oleh masyarakat untuk menjadikan kawasan tepi sungai Binatur tersebut menjadi lokasi wisata seperti preseden yang ada di dalam dokumen perencanaan mereka. Akan tetapi bagi sebagian warga, sudah cukup untuk menghilangkan kekhawatiran mereka bila melihat anak-anaknya bermain di tepi sungai (yang masih hitam dan bau) tersebut. Kapan mimpi masyarakat terwujud?? Ataukah sebenarnya mereka telah capai bermimpi? Tugas kita bersama untuk terus memupuk semangat masyarakat. Lanjutkan!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar